Thursday, November 19, 2009
Thursday, October 22, 2009
Tifatul: Proyek Palapa Ring Harus Rampung
Tifatul: Proyek Palapa Ring Harus Rampung
Kamis, 22 October 2009 09:17 WIB
Jakarta, (tvOne)
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Tifatul Sembiring, mengatakan, proyek Palapa Ring yang masih tertunda persoalan teknis harus segera rampung.
"Proyek Palapa Ring harus dilanjutkan dan dirampungkan," kata Tifatul di Jakarta, Kamis.
Ia berpendapat, sampai saat ini kawasan Indonesia bagian Timur belum sepenuhnya terakses jaringan telekomunikasi. Bahkan di beberapa daerah terpencil termasuk pulau-pulau terluar NKRI masih merupakan daerah "blankspot".
"Ini kita akan lanjutkan dengan Proyek Palapa Ring," katanya. Ia mengatakan, bila dahulu pada zaman Kerajaan Majapahit, Mahapatih Gajah Mada, menyatakan Sumpah Palapa untuk menyatukan nusantara, maka saat ini akan ada Palapa Ring untuk menyatukan wilayah NKRI. "Proyek ini adalah upaya untuk menyatukan seluruh wilayah NKRI dalam satu jaringan fiber optik," katanya.
Pria kelahiran Bukittinggi itu bertekad mengembangkan jaringan telekomunikasi khususnya di kawasan Indonesia Tengah dan Indonesia Timur karena di kedua wilayah itu layanan informasi masih kurang optimal.
Proyek Palapa Ring sampai saat ini belum terealisasi akibat terkendala persoalan teknis mulai dari diferensiasi nilai investasi akibat perubahan nilai tukar mata uang hingga berbelitnya persoalan bahan baku. Ia bertekad melanjutkan program itu hingga terealisasi.
Indonesia memiliki masalah dalam hal perbedaan kemudahan akses di kota besar dan daerah terpencil yang sangat besar, katanya. Hal itulah yang menjadikan ada jurang ("gap") yang lebar dari sisi layanan komunikasi antara satu daerah dengan daerah lain terutama di wilayah terpencil. "Sebagai Menkominfo saya ingin komunikasi yang lancar dan informasi yang benar dalam arti lancar, mudah, dan bermanfaat," katanya.
Ia mengaku, infrastruktur ICT di tanah air masih sangat lemah sehingga layanan informasi tidak optimal. Padahal sektor informasi dan komunikasi sangat potensial untuk digarap karena ada studi yang menyebutkan bahwa investasi ICT 1 persen bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi 3-5 persen.
Tifatul sendiri secara pribadi ingin Kominfo menjadi penggerak pembangunan bangsa, pengaplikasi produk lokal, penyerap tenaga kerja, sebagai alat pencerdasan kehidupan bangsa, dan alat demokrasi. "Institusi ini juga potensial untuk menjaga NKRI karena sampai saat ini masih banyak daerah yang belum tersentuh akses telekomunikasi terutama di wilayah terluar dan terpencil," katanya.
Oleh karena itu, ia bertekad merangsang para vendor telekomunikasi untuk lebih mengembangkan perannya di seluruh bagian wilayah Indonesia. "Dengan begitu tidak akan ada lagi wilayah blankspot di Indonesia," tambahnya. (Ant)
Kamis, 22 October 2009 09:17 WIB
Jakarta, (tvOne)
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Tifatul Sembiring, mengatakan, proyek Palapa Ring yang masih tertunda persoalan teknis harus segera rampung.
"Proyek Palapa Ring harus dilanjutkan dan dirampungkan," kata Tifatul di Jakarta, Kamis.
Ia berpendapat, sampai saat ini kawasan Indonesia bagian Timur belum sepenuhnya terakses jaringan telekomunikasi. Bahkan di beberapa daerah terpencil termasuk pulau-pulau terluar NKRI masih merupakan daerah "blankspot".
"Ini kita akan lanjutkan dengan Proyek Palapa Ring," katanya. Ia mengatakan, bila dahulu pada zaman Kerajaan Majapahit, Mahapatih Gajah Mada, menyatakan Sumpah Palapa untuk menyatukan nusantara, maka saat ini akan ada Palapa Ring untuk menyatukan wilayah NKRI. "Proyek ini adalah upaya untuk menyatukan seluruh wilayah NKRI dalam satu jaringan fiber optik," katanya.
Pria kelahiran Bukittinggi itu bertekad mengembangkan jaringan telekomunikasi khususnya di kawasan Indonesia Tengah dan Indonesia Timur karena di kedua wilayah itu layanan informasi masih kurang optimal.
Proyek Palapa Ring sampai saat ini belum terealisasi akibat terkendala persoalan teknis mulai dari diferensiasi nilai investasi akibat perubahan nilai tukar mata uang hingga berbelitnya persoalan bahan baku. Ia bertekad melanjutkan program itu hingga terealisasi.
Indonesia memiliki masalah dalam hal perbedaan kemudahan akses di kota besar dan daerah terpencil yang sangat besar, katanya. Hal itulah yang menjadikan ada jurang ("gap") yang lebar dari sisi layanan komunikasi antara satu daerah dengan daerah lain terutama di wilayah terpencil. "Sebagai Menkominfo saya ingin komunikasi yang lancar dan informasi yang benar dalam arti lancar, mudah, dan bermanfaat," katanya.
Ia mengaku, infrastruktur ICT di tanah air masih sangat lemah sehingga layanan informasi tidak optimal. Padahal sektor informasi dan komunikasi sangat potensial untuk digarap karena ada studi yang menyebutkan bahwa investasi ICT 1 persen bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi 3-5 persen.
Tifatul sendiri secara pribadi ingin Kominfo menjadi penggerak pembangunan bangsa, pengaplikasi produk lokal, penyerap tenaga kerja, sebagai alat pencerdasan kehidupan bangsa, dan alat demokrasi. "Institusi ini juga potensial untuk menjaga NKRI karena sampai saat ini masih banyak daerah yang belum tersentuh akses telekomunikasi terutama di wilayah terluar dan terpencil," katanya.
Oleh karena itu, ia bertekad merangsang para vendor telekomunikasi untuk lebih mengembangkan perannya di seluruh bagian wilayah Indonesia. "Dengan begitu tidak akan ada lagi wilayah blankspot di Indonesia," tambahnya. (Ant)
Monday, September 14, 2009
XL Siapkan Alternatif Jaringan SLI
XL Siapkan Alternatif Jaringan SLI
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
ilustrasi (diolah/ist.)
Jakarta - Excelcomindo Pratama (XL) menyatakan siap menyediakan jaringan serat optik dengan kapasitas yang sangat besar untuk memperoleh lisensi sambungan langsung internasional (SLI).
Menurut Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi, pihaknya akan menyediakan kapasitas jaringan serat optik dan sentra gerbang internasional (SGI) seperti yang diminta pemerintah dengan beragam alternatif.
"Ada beberapa kemungkinan. Bisa seperti Bakrie Telecom, bangun sendiri, sewa, sama beli sebagian punya perusahaan lain. Yang penting ada kapasitasnya. Kalau bangun dan urut kabel optik sendiri buat apa," ujarnya kepada detikINET, Senin (14/9/2009).
Sebagai pemilik lisensi baru SLI setelah Indosat dan Telkom, Bakrie Telecom diharuskan membuat satu landing point di Batam, rute jaringan internasional, pembangunan jaringan Internet Exchange (IIX) melalui serat optik, serta penyediaan jaringan transmisi antarSGI.
Untuk wilayah layanan pada lima tahun pertama adalah Indonesia Bagian Barat yang meliputi Jawa, Sumatera, dan Kepulauan Riau melalui SGI Jakarta dan Indonesia bagian timur melalui SGI Surabaya.
Sedangkan pada lima tahun kedua diharuskan membangun satu landing point di kota Kupang dengan rute jaringan internasional menuju Kota Darwin, Australia.
Menurut Hasnul, soal penyediaan kapasitas jaringan SLI, XL juga bisa membeli sebagian kapasitas serat optik Surabaya-Hong Kong yang dimiliki oleh pengusaha Dahlan Iskan. "Dari 16 core milik mereka, bisa kita beli seperempatnya. Satu core saja bisa banyak lamda, dan satu lamda itu sangat besar sekali kapasitasnya," jelasnya.
Soal kapasitas sentra gerbang, Hasnul juga bilang XL telah memiliki SGI di Jakarta, Bali, dan Sulawesi. Sementara untuk kabel optik, perusahaan itu punya jalur Sumatera, Jawa, Kalimantan melalui Batam Rengit Submarine Cable (BRSC). "Kami juga siap jika diminta bangun di kawasan timur Indonesia, asalkan ada trafiknya," sebut dia.
Mantan dirut Indosat ini menjelaskan, investasi yang dikeluarkan untuk membangun seluruh kapasitas jaringan SLI ini tidak sebesar beberapa waktu lalu.
"Yang mahal sekarang bukan di SGI tapi di backbone. Kalau dulu untuk SGI harganya bisa US$ 12 juta, sekarang SGI cukup di ujung saja tinggal pakai software multiplexer, MSC (mobile switching center) dan server ke link internasional," tandasnya.
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
ilustrasi (diolah/ist.)
Jakarta - Excelcomindo Pratama (XL) menyatakan siap menyediakan jaringan serat optik dengan kapasitas yang sangat besar untuk memperoleh lisensi sambungan langsung internasional (SLI).
Menurut Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi, pihaknya akan menyediakan kapasitas jaringan serat optik dan sentra gerbang internasional (SGI) seperti yang diminta pemerintah dengan beragam alternatif.
"Ada beberapa kemungkinan. Bisa seperti Bakrie Telecom, bangun sendiri, sewa, sama beli sebagian punya perusahaan lain. Yang penting ada kapasitasnya. Kalau bangun dan urut kabel optik sendiri buat apa," ujarnya kepada detikINET, Senin (14/9/2009).
Sebagai pemilik lisensi baru SLI setelah Indosat dan Telkom, Bakrie Telecom diharuskan membuat satu landing point di Batam, rute jaringan internasional, pembangunan jaringan Internet Exchange (IIX) melalui serat optik, serta penyediaan jaringan transmisi antarSGI.
Untuk wilayah layanan pada lima tahun pertama adalah Indonesia Bagian Barat yang meliputi Jawa, Sumatera, dan Kepulauan Riau melalui SGI Jakarta dan Indonesia bagian timur melalui SGI Surabaya.
Sedangkan pada lima tahun kedua diharuskan membangun satu landing point di kota Kupang dengan rute jaringan internasional menuju Kota Darwin, Australia.
Menurut Hasnul, soal penyediaan kapasitas jaringan SLI, XL juga bisa membeli sebagian kapasitas serat optik Surabaya-Hong Kong yang dimiliki oleh pengusaha Dahlan Iskan. "Dari 16 core milik mereka, bisa kita beli seperempatnya. Satu core saja bisa banyak lamda, dan satu lamda itu sangat besar sekali kapasitasnya," jelasnya.
Soal kapasitas sentra gerbang, Hasnul juga bilang XL telah memiliki SGI di Jakarta, Bali, dan Sulawesi. Sementara untuk kabel optik, perusahaan itu punya jalur Sumatera, Jawa, Kalimantan melalui Batam Rengit Submarine Cable (BRSC). "Kami juga siap jika diminta bangun di kawasan timur Indonesia, asalkan ada trafiknya," sebut dia.
Mantan dirut Indosat ini menjelaskan, investasi yang dikeluarkan untuk membangun seluruh kapasitas jaringan SLI ini tidak sebesar beberapa waktu lalu.
"Yang mahal sekarang bukan di SGI tapi di backbone. Kalau dulu untuk SGI harganya bisa US$ 12 juta, sekarang SGI cukup di ujung saja tinggal pakai software multiplexer, MSC (mobile switching center) dan server ke link internasional," tandasnya.
Wednesday, August 19, 2009
Reviving A Dead Notebook Battery
I started my working life being a support/sysadmin guy with a computing giant in Singapore. Needless to say, spending over three years in such an industry made me learn a few unconventional tips and tricks to rectify common computing problems. One tip I’d like to share here is on reviving a seemingly dead notebook battery.
Before I proceed let me just lay down a few disclaimers here:
1. If your notebook computer is still under warranty, then by all means get the battery replaced!
2. There’s no guarantee that this tip will work with your notebook battery; but so far this tip has never failed me
3. If you have the money and there’s still available stock for your notebook battery, then just buy a replacement unit you cheapskate
4. I won’t be held responsible for any damages or injuries resulting from following this tip. You have been warned!
OK, now that the above has been made clear, here’s the tip: freeze the battery! Yup, that’s the concept. However, here’s the proper way to do it in easy to read steps:
1. Remove the battery from the notebook computer
2. Wrap the battery with old newspaper, making sure that it envelops the battery tightly
3. Repeat step 2 above with at least three pieces of large sheet newspaper (if you’re using tabloid sized newspaper, then use at least five pieces)
4. Place the wrapped battery in the freezer compartment of your refrigerator
5. Let it stay in that cryogenic state for three to seven days
Once your battery has been given the frozen treatment, do not directly plug it into your notebook! Let the battery thaw to normal room temperature within the newspaper wrapping by leaving it in the open for at least half a day (overnight is recommended).
Tear off the newspaper wrapping and touch the battery. Does it feel cool to the touch? If so, then leave it at room temperature for a few more hours. Once it feels just about room temperature, take a piece of tissue and wipe the contact points of the battery just in case there’s some traces of moisture there.
Once this is done, plug it in your notebook computer, plug in the power adapter and leave your notebook in “charging” state. Do not power on the notebook!
Give your battery time to fully charge (this depends on your notebook/battery model). Once you’re 100% confident that the battery is fully charged, say your prayers, cross your fingers and power on your notebook. If all goes well, your battery should be working just fine.
Although I won’t promise that this notebook battery revival method will work for your particular notebook model, it has yet to fail me on a HP, Compaq, Dell and an old IBM ThinkPad… why not just give it a try, what have you got to lose?
Before I proceed let me just lay down a few disclaimers here:
1. If your notebook computer is still under warranty, then by all means get the battery replaced!
2. There’s no guarantee that this tip will work with your notebook battery; but so far this tip has never failed me
3. If you have the money and there’s still available stock for your notebook battery, then just buy a replacement unit you cheapskate
4. I won’t be held responsible for any damages or injuries resulting from following this tip. You have been warned!
OK, now that the above has been made clear, here’s the tip: freeze the battery! Yup, that’s the concept. However, here’s the proper way to do it in easy to read steps:
1. Remove the battery from the notebook computer
2. Wrap the battery with old newspaper, making sure that it envelops the battery tightly
3. Repeat step 2 above with at least three pieces of large sheet newspaper (if you’re using tabloid sized newspaper, then use at least five pieces)
4. Place the wrapped battery in the freezer compartment of your refrigerator
5. Let it stay in that cryogenic state for three to seven days
Once your battery has been given the frozen treatment, do not directly plug it into your notebook! Let the battery thaw to normal room temperature within the newspaper wrapping by leaving it in the open for at least half a day (overnight is recommended).
Tear off the newspaper wrapping and touch the battery. Does it feel cool to the touch? If so, then leave it at room temperature for a few more hours. Once it feels just about room temperature, take a piece of tissue and wipe the contact points of the battery just in case there’s some traces of moisture there.
Once this is done, plug it in your notebook computer, plug in the power adapter and leave your notebook in “charging” state. Do not power on the notebook!
Give your battery time to fully charge (this depends on your notebook/battery model). Once you’re 100% confident that the battery is fully charged, say your prayers, cross your fingers and power on your notebook. If all goes well, your battery should be working just fine.
Although I won’t promise that this notebook battery revival method will work for your particular notebook model, it has yet to fail me on a HP, Compaq, Dell and an old IBM ThinkPad… why not just give it a try, what have you got to lose?
Thursday, July 16, 2009
Adrian Lubis' Highlights of Training, Seminar & Workshop
Highlights of Training, Seminar & Workshop
Submarine
• NEC Submarine System Planning (Jakabare Project), NEC Corp, Japan, 9 – 13 February 2009
• Alcatel Submarine System Planning, Alcatel University, France, 2006
Satellite
• Sistem Komunikasi Satelit, Indosat, Jakarta, 11-12 November 2008
• Satellite Engineering, Telesat, Ottawa – Canada, 18 – 26 September 2008
Outside Plant (OSP)
• Fiber Optics, Systems, Test & Measurement, and Outside Plant Technology for Fiber-To-The-Home (FTTH), PT Communication Cable System Indonesia (CCSI)/Allied Telesyn, Jakarta, 20-21 August 2008
• LEAF Fiber Splicing, PMD, & CD Measurement, Loss Analysis using OTDR and introduction of C-OTDR, CCSI/EXFO/Fitel, Jakarta, 11-12 February 2008
Optical Transmission (SDH/DWDM)
• 40G Trial Workshop, Alcatel Indonesia, Jakarta, 13-14 November 2008
• Packet Transport Network “an evolution from TDM to all IP” workshop, Alcatel Indonesia, 11-12 June 2008
• Transmission Network Planning with 1626LM Rel. 4.0.A , Alcatel University, Vimercate – Italy, 17-21 March 2008
• DWDM Overview & Design Engineering Nortel OM5000 Series, Jakarta, 14-15 June 2007
• Surpass hiT 7070 O&M & TNMS Core/CDM O&M training, PT Siemens Indonesia, Bandung, 28 November – 9 December 2005
• SMA-16 R4.3 O&M and Introduction To TNMS Core V7.0 Training, Siemens ICN Division, Bandung – Indonesia, 13 – 17 October 2003
• Alcatel SDH Multiplexer 1650 SM-C and 1660 SM (Project Training), PT Alcatel Indonesia, Bali, 21-24 April 2003
• UMUX (Universal Multiplexer), PT. Metronet Kharisma, Bandung, 2001
Microwave Transmission
• "Millenium-Series" Digital Radio Microwave System Application Training, HARRIS USA, Indonesia, 8 June 2006
• SDH Microwave Training (SRT-1F), PT Siemens Indonesia, SMC training Center, Milan – Italy, 02 – 27 May 2005
Celullar
• Design of Packet based Celullar backhaul with Alcatel lucent Meta Frameworks, Alcatel Lucent Indonesia, Bogor, 15-16 May 2008
• Introduction To GSM (Indosat Inhouse), Bag. Diklat PT Indosat, Jatiluhur – Indonesia, 11-14 May 2004
Cisco & Others
• Implementing Cisco MPLS, Cisco Training Patner (Datacraft), Jakarta, 22-26 August 2005
• SUN-238 Solaris 8 System Administration I, Sun Microsystems (Inixindo), Jakarta, 10 – 14 March 2003
• Unix Fundamental, Utility and Shell Programming, Inixindo Unix Course, Jakarta, 10 – 14 February 2003
• CCNA, Cisco, 2001-2003 (exp)
• Interconnecting Cisco Network Devices (ICND), INIXINDO, Jakarta, 2001
• Hold various certificates in IBM PC & IBM Netfinity (X-server), IBM (IBM PC Institute), 1999 -2001
Submarine
• NEC Submarine System Planning (Jakabare Project), NEC Corp, Japan, 9 – 13 February 2009
• Alcatel Submarine System Planning, Alcatel University, France, 2006
Satellite
• Sistem Komunikasi Satelit, Indosat, Jakarta, 11-12 November 2008
• Satellite Engineering, Telesat, Ottawa – Canada, 18 – 26 September 2008
Outside Plant (OSP)
• Fiber Optics, Systems, Test & Measurement, and Outside Plant Technology for Fiber-To-The-Home (FTTH), PT Communication Cable System Indonesia (CCSI)/Allied Telesyn, Jakarta, 20-21 August 2008
• LEAF Fiber Splicing, PMD, & CD Measurement, Loss Analysis using OTDR and introduction of C-OTDR, CCSI/EXFO/Fitel, Jakarta, 11-12 February 2008
Optical Transmission (SDH/DWDM)
• 40G Trial Workshop, Alcatel Indonesia, Jakarta, 13-14 November 2008
• Packet Transport Network “an evolution from TDM to all IP” workshop, Alcatel Indonesia, 11-12 June 2008
• Transmission Network Planning with 1626LM Rel. 4.0.A , Alcatel University, Vimercate – Italy, 17-21 March 2008
• DWDM Overview & Design Engineering Nortel OM5000 Series, Jakarta, 14-15 June 2007
• Surpass hiT 7070 O&M & TNMS Core/CDM O&M training, PT Siemens Indonesia, Bandung, 28 November – 9 December 2005
• SMA-16 R4.3 O&M and Introduction To TNMS Core V7.0 Training, Siemens ICN Division, Bandung – Indonesia, 13 – 17 October 2003
• Alcatel SDH Multiplexer 1650 SM-C and 1660 SM (Project Training), PT Alcatel Indonesia, Bali, 21-24 April 2003
• UMUX (Universal Multiplexer), PT. Metronet Kharisma, Bandung, 2001
Microwave Transmission
• "Millenium-Series" Digital Radio Microwave System Application Training, HARRIS USA, Indonesia, 8 June 2006
• SDH Microwave Training (SRT-1F), PT Siemens Indonesia, SMC training Center, Milan – Italy, 02 – 27 May 2005
Celullar
• Design of Packet based Celullar backhaul with Alcatel lucent Meta Frameworks, Alcatel Lucent Indonesia, Bogor, 15-16 May 2008
• Introduction To GSM (Indosat Inhouse), Bag. Diklat PT Indosat, Jatiluhur – Indonesia, 11-14 May 2004
Cisco & Others
• Implementing Cisco MPLS, Cisco Training Patner (Datacraft), Jakarta, 22-26 August 2005
• SUN-238 Solaris 8 System Administration I, Sun Microsystems (Inixindo), Jakarta, 10 – 14 March 2003
• Unix Fundamental, Utility and Shell Programming, Inixindo Unix Course, Jakarta, 10 – 14 February 2003
• CCNA, Cisco, 2001-2003 (exp)
• Interconnecting Cisco Network Devices (ICND), INIXINDO, Jakarta, 2001
• Hold various certificates in IBM PC & IBM Netfinity (X-server), IBM (IBM PC Institute), 1999 -2001
Wednesday, May 27, 2009
XL Tetap Ikut Proyek Palapa Ring Cuma Minta Penjadwalan Ulang Irna Gustia - detikFinance
Rabu, 27/05/2009 13:38 WIB
XL Tetap Ikut Proyek Palapa Ring Cuma Minta Penjadwalan Ulang
Irna Gustia - detikFinance
(Foto: dok detikFinance)
Jakarta - PT Exclecomindo Pratama Tbk (XL) tetap ikut dalam proyek konsorsium pembangunan jaringan kabel serat optik di Indonesia Timur (Palapa Ring).
XL menegaskan tidak pernah menyatakan mundur dari keanggotaan konsorsium Palapa Ring. Perseroan tetap berkomitmen untuk ikut serta dalam proyek Palapa Ring.
"Hanya saja mengingat kondisi finansial perseroan saat ini sebagai akibat dari krisis global akhir-akhir ini, menyebabkan kemampuan perseroan untuk mendanai kegiatan investasi termasuk pembangunan proyek-proyek perlu dijadwalkan kembali, termasuk keikutsertaan dalam proyek pembangunan Palapa Ring pada tahun 2009," kata Corporate Secretary XL, Ike Andriani dalam keterbukaan informasi ke BEI, Rabu (27/5/2009).
XL berharap rencana pemerintah untuk meluncurkan proyek Palapa Ring pada 2009, tidak akan terganggu dengan penjadwalan ulang kontribusi pendanaan proyek tersebut.
"Mengenai waktu penjdawalan ulang kontribusi perseroan dalam proyek Palapa Ring, kami siap membahasnya dengan seluruh anggota konsorsium. Hal ini telah kami sampaikan kepada Ketua Management Committee proyek pembangunan Palapa Ring dengan surat tertanggal 26 Mei 2009," jelas Ike.
Anggota konsorsium Palapa Ring adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom), PT Indosat Tbk, PT Exclecomindo Pratama Tbk dan PT Bakrie Telecom Tbk dengan total dana dari konsorsium ini sekitar US$ 180 juta. Sebelumnya dikabarkan jika XL mundur maka dana konsorsium akan berkurang menjadi US$ 150 juta.
Palapa Ring adalah pembangunan jaringan kabel serat optik dari Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua ini memerlukan dana sekitar US$ 700 juta.
Panjang jaringan mencapai 4.450 km terdiri dari 3.850 km submarine cable dan 600 km inland cable. Sementara jumlah landing point 15 dan direncanakan bakal melintasi 21 kabupaten/kota di Indonesia bagian timur.
XL Tetap Ikut Proyek Palapa Ring Cuma Minta Penjadwalan Ulang
Irna Gustia - detikFinance
(Foto: dok detikFinance)
Jakarta - PT Exclecomindo Pratama Tbk (XL) tetap ikut dalam proyek konsorsium pembangunan jaringan kabel serat optik di Indonesia Timur (Palapa Ring).
XL menegaskan tidak pernah menyatakan mundur dari keanggotaan konsorsium Palapa Ring. Perseroan tetap berkomitmen untuk ikut serta dalam proyek Palapa Ring.
"Hanya saja mengingat kondisi finansial perseroan saat ini sebagai akibat dari krisis global akhir-akhir ini, menyebabkan kemampuan perseroan untuk mendanai kegiatan investasi termasuk pembangunan proyek-proyek perlu dijadwalkan kembali, termasuk keikutsertaan dalam proyek pembangunan Palapa Ring pada tahun 2009," kata Corporate Secretary XL, Ike Andriani dalam keterbukaan informasi ke BEI, Rabu (27/5/2009).
XL berharap rencana pemerintah untuk meluncurkan proyek Palapa Ring pada 2009, tidak akan terganggu dengan penjadwalan ulang kontribusi pendanaan proyek tersebut.
"Mengenai waktu penjdawalan ulang kontribusi perseroan dalam proyek Palapa Ring, kami siap membahasnya dengan seluruh anggota konsorsium. Hal ini telah kami sampaikan kepada Ketua Management Committee proyek pembangunan Palapa Ring dengan surat tertanggal 26 Mei 2009," jelas Ike.
Anggota konsorsium Palapa Ring adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom), PT Indosat Tbk, PT Exclecomindo Pratama Tbk dan PT Bakrie Telecom Tbk dengan total dana dari konsorsium ini sekitar US$ 180 juta. Sebelumnya dikabarkan jika XL mundur maka dana konsorsium akan berkurang menjadi US$ 150 juta.
Palapa Ring adalah pembangunan jaringan kabel serat optik dari Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua ini memerlukan dana sekitar US$ 700 juta.
Panjang jaringan mencapai 4.450 km terdiri dari 3.850 km submarine cable dan 600 km inland cable. Sementara jumlah landing point 15 dan direncanakan bakal melintasi 21 kabupaten/kota di Indonesia bagian timur.
NTS Kaji Gabung Palapa Ring
NTS Kaji Gabung Palapa Ring
Ardhi Suryadhi - detikinet
ilustrasi (ist)
Jakarta - PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) selaku penyedia layanan seluler AXIS tidak menutup kemungkinan untuk ikut serta dalam konsorsium Palapa Ring. Mereka masih mengkaji kemungkinan tersebut.
Dikatakan oleh Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, perusahaan mereka selalu tertarik untuk membangun infrastruktur, terutama yang mendukung kegiatan operasional mereka.
"Untuk pembangunan infrastruktur, kami telah menyiapkan USD 1,6 miliar untuk investasi. Terlebih sebagai pemain baru, AXIS senantiasa membuka pintu untuk membangun infrastruktur bersama dengan operator lain," ujar Saud di sela acara penghargaan rekor MURI untuk Axis di Menara DEA, Jakarta, Rabu (27/5/2009).
Ketika disodorkan mengenai ketertarikannya soal Palapa Ring, menurutnya kemungkinan itu bisa saja, tapi mereka harus mengkaji terlebih dahulu proyek itu.
Palapa Ring sendiri saat ini baru saja kehilangan lagi anggotanya, yakni XL. Jadi tinggal tersisa tiga anggota, yakni PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, dan PT Bakrie Telecom Tbk.
Sementara itu Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar, menyatakan perusahaan manapun boleh bergabung dengan konsorsium Palapa Ring.
Ardhi Suryadhi - detikinet
ilustrasi (ist)
Jakarta - PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) selaku penyedia layanan seluler AXIS tidak menutup kemungkinan untuk ikut serta dalam konsorsium Palapa Ring. Mereka masih mengkaji kemungkinan tersebut.
Dikatakan oleh Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, perusahaan mereka selalu tertarik untuk membangun infrastruktur, terutama yang mendukung kegiatan operasional mereka.
"Untuk pembangunan infrastruktur, kami telah menyiapkan USD 1,6 miliar untuk investasi. Terlebih sebagai pemain baru, AXIS senantiasa membuka pintu untuk membangun infrastruktur bersama dengan operator lain," ujar Saud di sela acara penghargaan rekor MURI untuk Axis di Menara DEA, Jakarta, Rabu (27/5/2009).
Ketika disodorkan mengenai ketertarikannya soal Palapa Ring, menurutnya kemungkinan itu bisa saja, tapi mereka harus mengkaji terlebih dahulu proyek itu.
Palapa Ring sendiri saat ini baru saja kehilangan lagi anggotanya, yakni XL. Jadi tinggal tersisa tiga anggota, yakni PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, dan PT Bakrie Telecom Tbk.
Sementara itu Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar, menyatakan perusahaan manapun boleh bergabung dengan konsorsium Palapa Ring.
Subscribe to:
Posts (Atom)
